Petikkan Inspiratif dari Novel Ranah 3 warna (part 2)

Selamat Sore Teman-teman sekarang kita lanjutkan ilmu inspiratif yang bisa di ambil dari novel ranah 3 warna tersebut.

ranah3warna

Setelah alif diterima di salah satu universitas yang masuk dalam kategori universitas populer se-Indonesia yakni UNPAD, ia dengan berat hati meninggalkan kampung halamannya untuk pergi merantau, disamping itu juga ia sekaligus senang karena bisa mencapai apa yang diinginkannya untuk kuliah di Bandung walau hanya lulusan pondok dan dari keluarga tidak mampu. Tapi dengan kesungguhannya yang kuatlah membuat dia berani bermimpi dan mewujudkannya.

Pagi-pagi sekali ia berpamitan dengan orang tuanya, dan saudara-saudaranya untuk pergi menuju daerah impian, ia menggunakan bus dan di dalam bus ia terus berpikir dimana ia akan tinggal di Bandung untuk sementara waktu. Perjalanannya memakan waktu 3 hari 3 malam. Ia teringat ada salah seorang sahabat dekatnya yang kebetulan kuliah di ITB bandung dari kampung yang sama, ia kemudian mencari alamat sahabatnya. sahabatnya Randai adalah anak orang mampu, semua kebutuhannya bisa terpenuhi sedangkan alif hanyalah orang yang sangat berkekurangan. setelah ia bertemu sahabatnya, ia meminta izin untuk tinggal beberapa hari sebelum menemukan tempat kos yang cocok dengan uangnya, hari demi hari ia terus mencari tempat kos yang baru karena tidak enak tinggal lama-lama dengan sahabatnya tapi belum ada yang cocok dengan uang saku yang sangat terbatas. Randai sahabatnya pun menawarkan tempatnya untuk di sewa berdua saja, patungan biar murah katanya, dan alifpun menyetujui dengan senang tawaran dari randai.

Beberapa hari kemudian ia mendapat kabar dari ibunya bahwa ayahnya sakit keras dan meminta ia untuk pulang dan menemani ayahnya. alif sangat terpukul mendengar kabar itu. Setelah ia pulang dan merawat ayahnya beberapa hari di rumah sakit, kemudian ayahnya meninggal dunia, meninggalkannya untuk selama-lamanya dari dunia ini. alif sangat terpukul dan berpikir bagaimana ia melanjutkan kuliahnya di bandung yang jauh sana karena ayahnya tentu tidak akan pernah bisa mengiriminya lagi uang setiap bulan, ibunya yang harus menanggung semuanya. Ayahnya berpesan untuk terus melanjutkan kuliahnya dan merawat ibu dan adik-adiknya.

Beberapa hari setelah kepergian ayahnya ia akhirnya kembali ke Bandung dengan perasaan yang tidak tenang, nilai matakuliah banyak yang buruk karena banyak masalah yang ia hadapi. Setiap hari ia hanya sarapan bubur dengan air yang banyak untuk menghemat pengeluarannya karena terus berhutang kepada teman-temannya, kiriman dari ibunya juga tidak pernah ada setiap bulan. Ia akhirnya bangkit dan mencoba menjadi guru privat bahasa inggris yang di tawarkan temannya, ia juga menjadi penjual kain keliling dari rumah ke rumah, menjual parfum membantu temannya tapi ia tidak sanggup menjalani hal itu lagi karena disamping membuat ia sangat lelah dan menyita banyak waktu, pembeli yang di dapat hanyalah sedikit saja, dan tidak akan mampu memenuhi kebutuhan kuliah, makan dan tempat tinggalnya. pada suatu hari ia sangat kelelahan dan beristirahat sejenak, ada beberapa orang preman mendekati dia dan meminta semua uang yang dimilikinya, alif bergetar ketakutan karena hanya sedikit uang yang dimiliki dari hasil jualannya, premanpun mengambil semuanya karena alif sangat ketakutan lehernya di todong dengan menggunakan pisau dan sedikit menggores lehernya.

Semua sudah di rampas, untungnya ia selalu menyelipkan sedikit uang untuk ongkos pulang ke kos setelah lama berkeliling jauh. Setibanya di kos ia mengeluarkan kunci dan membuka pintu dan langsung roboh ke kasur. Setelah bangun ia melihat putih-putih di sekelilingnya ternyata dia sudah di klinik di bawa teman-temannya karena ia pingsan setelah kejadian itu. Ia mulai bertanya dan meragukan jurus man jadda wajadda yang ia selalu amalan, siapa yang bersungguh pasti sukses, padahal ia sudah melebihkan usahanya di atas rata-rata orang. tapi mengapa musibah demi musibah menimpanya. Ia akhirnya teringat satu kalimat lagi yang ia lupa “Man Shabara Zhafira” Siapa yang bersabar pasti akan beruntung. Ia kemudian bersabar dan mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhannya, Ia belajar menulis pada salah seorang seniornya di kampus orang batak yang sudah sukses menjadi penulisa profesional dan bisa mandiri dari menulis. Nama seniornya bang togar, Asli batak. bang togar mendidik ia sangat keras, belum sepenuhnya ia sembuh dari penyakit tipes yang di deritanya ia langsung di suruh penulis 10 halaman tulisan dengan judul yang sudah di tentukan menggunakan mesin ketik pula, padahal ada komputer yang bisa digunakan, tapi tujuan bang togar adalah untuk melatihnya agar tidak menjadi penulis yang manja. setiap hari alif harus menyerahkan hasil tulisannya kepada bang togar, hari demi hari selalu ada coretan yang diberikan bang togar kepada alif, sampai alif hampir menyerah karena tulisannya tak kunjung bagus sesuai yang di harapkan bang togar, tapi ia ingat Man Shabara Zhafira, siapa yang bersabar pasti beruntung. setelah beberapa hari kemudian tulisannya sudah dianggap bagus dan siap untuk di kirim ke beberapa media lokal atau koran lokal untuk di muat, ada salah satu koran lokal yang menerima tulisannya dan hanya di hargai 10000 bagaimana ia bisa hidup hanya mendapatkan 10000, ia cerita kepada bang togar masalah honor pertamanya. Hidup tak langsung sukses lif, kamu harus bisa mengirim tulisan kamu di media nasional ataupun internasional jika ingin mendapatkan lebih, kemudian ia bersemangat lagi menulis dan menulis hingga akhirnya ia mendapat honor yang cukup untuk hidupnya di bandung dan mengirimkan juga untuk ibunya di kampung, ibunya sangat terharu ketika menerima hasil dari anaknya sendiri dan meminta maaf kepada alif melalui surat , bawah ibu tidak bisa mengirimkan uang kebutuhannya.

DariĀ  sedikit ringkasan novel di atas kita bisa menyimpulkan bahwa berusaha lebih saja tidak cukup, kita perlu terus bersabar dan berusaha agar mendapatkan sesuatu yang kita inginkan , kita berencana, Allah telah menyiapkan yang terbaik buat kita.
Semangat ya kawan-kawan untuk selalu memperjuangkan hidup kita ^_^.
Semoga bisa menginspirasi kita semua, amin

Man jadda Wa jadda : Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil

Man Shabara Zhafira : Siapa yang bersabar pasti beruntung

Another blog

Telkom University Creating The Future ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s