Wawancara dengan CEO Agate Studio

Arief Widhiyasa, adalah Chief Executive Officer (CEO) Agate Studio, developer game lokal asal Bandung yang telah menghasilkan 100 lebih game baik untuk personal computer maupun untuk perangkat mobile. Pendiri Agate berjumlah 16 orang dan setelah dua tahun berdiri, Agate Studio telah memiliki 60 orang karyawan. Arief adalah salah satu pendiri Agate Studio dan sejak perusahaan ini resmi berdiri, Arief dipercaya oleh teman-temannya di Agate Studio untuk memimpin perusahaan ini karena dianggap paling banyak berperan dalam pengembangan Agate Studio dan paham tentang manajemen perusahaan.

Kompas Tekno mendapat kesempatan bertemu pria kelahiran Denpasar, 4 April 1987 ini di Agate Studio, Setiabudi, Bandung, sebelum Arief bersiap berangkat ke Surabaya untuk launching game bulutangkis “Smash Mania” di Surabaya. Tak sempat wawancara langsung, Arief bersedia melakukan wawancara via email. Berikut adalah hasil wawancaranya:

Sejak kapan Arief menyukai game? ada kisah unik di masa kecil tentang game?

Sejak TK 0 kecil sudah maen game karena dibeliin orang tua nintendo, sejak itu nampaknya sudah super suka maen game. Bisa dibilang sepertiga sampai setengah waktu saya dipakai untuk game (tidur udah included, berarti sehari bisa 8 sampai 12 jam). Uniknya mungkin nampaknya saya memang sudah ber-passion di development game dari kecil, dari kecil sudah sangat suka bikin komik, bikin game pake kertas, bahkan sewaktu keluar RPG Maker saya bisa berhari-hari di depan game itu.

Bagaimana pendapat Arief tentang game itu sendiri?
Game memiliki potensi yang luar biasa untuk cuci otak satu generasi, jadi ketika diberikan value-value yang positif via game, akan terjadi perubahan yang massive pada kehidupan. Secara independent juga game melatih para gamernya untuk menjadi tidak mudah menyerah (kalau maen game, terus game over, jarang ada orang yang nyerah kan ya, pasti retry), game juga bisa melatih kemampuan kosentrasi, kemampuan berpikir, refleks dan tentunya bisa menumbuhkan kepercayaan diri ke tingkat yang paling ekstrem.

Apakah memang bercita-cita ingin menjadi pengusaha di industri game?

Hmmmm, mungkin dari dulu memang selalu bermimpi untuk bisa membuat game sendiri.

Bagaimana mulanya bisa bergabung dengan teman-teman di Agate Studio?

Kebetulan, kebetulan bertemu teman-teman yang gila (bahkan lebih gila), dan memiliki passion yang sama di game dan tentunya semuanya sharing visi yang sama untuk membuat dunia lebih bahagia.

Bisa ceritakan suka-dukanya membangun Agate Studio?

Ha Ha Ha, mungkin suka-sukanya ya, kalau diingat-ingat ga ada dukanya soalnya, semua momen kami nikmati. Semuanya sih sangat menyenangkan, bisa bekerja yang sesuai dengan passion, walaupun di awal kami start dengan gaji cuma Rp 50 ribu seorang, sehari bisa berkarya minimal 15 jam, semuanya menyenangkan. Salah satu momen yang sangat mengharukan bagi kami, adalah ketika kami jumlahnya sudah sekitar 30-an orang, dan bisa menggaji sesuai dengn UMR, sangat terharu.

Apa pengalaman paling berkesan selama membangun Agate Studio?
Bagi saya pribadi, momen-momen yang paling membahagiakan adalah ketika secara sedikit demi sedikit Agate berhasil menginspirasi orang untuk mengejar mimpi, Agate berhasil menginspirasi agar kita lebih menikmati momen kehidupan dan Live The Fun Way.

Menurutmu secara pribadi, Agate Studio itu apa? Rumah? Tempat bermain, atau tempat bekerja?
Yup, Agate merupakan Home for us (we use Home instead of House, because there’s family in it), tempat bermain, dan tentunya tempat berkarya. Agate juga merupakan lingkungan yang sangat positif untuk bisa berkembang dan berkontribusi ke dunia.

Apa rencanamu ke depan untuk Agate Studio dan apa rencanamu ke depan untuk dirimu sendiri? apakah tetap akan mengurusi Agate atau berniat membuat hal baru?
Hmmm, visi Agate dan visi saya pribadi sangat inline, jadi saya akan selalu berusaha untuk bisa berkontribusi semaksimal mungkin agar visi Agate untuk berkontribusi dalam membuat dunia lebih bahagia bisa terwujud perlahan-lahan.

Bagaimana Arief memandang Agate Studio saat ini dibandingkan dulu? Apa perubahan yang paling terlihat dan paling terasa?
Sampai sekarang yang paling terlihat secara jumlah kami makin banyak crew, tapi sampai sekarang juga saya sangat bahagia bahwa turn over kita masih 0, dan sampai sekarang juga, visi dan value yang kita emban dari dulu masih lestari dan bahkan menjadi jauh lebih positif.

Bagaimana pendapat orang tua tentang pilihanmu mendirikan usaha sendiri dan dalam bidang game?
Orang tua sangat support, kebetulan background mereka juga Entrepreneur, mungkin yang agak butuh waktu adalah keputusan saya untuk DO dari kampus ITB.

Bagaimana ceritanya memilih Drop Out dari kampus?

Kalau DO sih lebih ke arah pilihan dan preferensi saja, kalau untuk survival, menurut saya tidak terlalu berhubungan kok. One can survive with or without gelar. Maksudnya ga ada impact langsung antara gelar dengan survival, tapi antara knowledge dengan survival, tujuan kita ke kampus kan belajarnya. Jangan malah jadi kepikiran bahwa harus DO dulu sebelum membangun usaha.

Bagaimana pendapatmu tentang industri game lokal, baik dulu, sekarang, dan prospek ke depan?
Perkembangan industri game lokal dua tahun belakangan ini sangat menarik (dari sisi pertumbuhan sangat pesat), dan prospek ke depannya juga sangat cerah (ini tidak hanya berlaku di lokal, namun juga prospek industri game global), hanya sekarang tinggal kesiapan industri game lokal kita harus mantap, sebelum asing mulai masuk dan akhirnya jadi dominasi industri game lokal kita.

Apa yang Arief harapkan dari pemerintah untuk mendorong pertumbuhan industri game di Indonesia?
Sampai titik ini, melihat perkembangan pemerintah kita, pemerintah sudah sangat supportif terhadap industri kreatif kita (di mana game termasuk di dalamnya), jadi so far so good sih kalau melihat track record pemerintahan ya. Tapi mungkin secara industri akan lebih mantap kalau beberapa sisi juga ada kebijakan dari pemerintah seperti (ini melihat negara-negara lain yang sukses di game industri akibat campur tangan pemerintah) :
1. Marketing bersama dan membuat pasar bersama-sama (South Korea),
2. Insentif atau Grant untuk startup game developer atau riset game developer (Singapura, Malay, South Korea),
3. Tax holiday (UK – 10 yr, Singapura – 3yr),
4. Support Akademis untuk create talent.

source : http://tekno.kompas.com/read/2011/12/15/08060147/ceo.agate.studio.pilih.quotdrop.outquot.demi.game

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s